Khotmil Qur’an SEF 6th 2020

Banyak terjadi perubahan untuk tetap melaksanakan kegiatan-kegitan yang positif akibat dari Pandemi Virus Covid-19. Sebelumnya dilakukan secara langsung bertatap muka namun sekarang harus dilakukan dengan daring. Namun hal itu tidak mematahkan semangat panitia maupun peserta di rangkaian acara Shariah Economic fair (SEF) 2020. Salah satu acara yang diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 2020 yaitu Kultum dan Khatmil Qur’an 19.30 WIB. Acara diikuti lebih dari 40-an orang mahasiswa ekonomi syariah melalui live google meet yang dimulai dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan doa khatmil Qur’an. Yusuf Naufal sebagai pemimpin doa yang merupakan mahasiswa Ekonomi Syariah angkatan 2017. Adapun pembacaan Al Qur’an dilakukan selama kurang lebih 2 minggu-an hingga sampai khatam 2 kali barulah dilakukan doa khatmil qur’an bersama secara virtual. Pembacaan doa berjalan dengan sangat khidmad meski terjadi sedikit kendala.

Kultum yang pertama dibawakan oleh Ahmad Fajar Ahsan, mahasiswa program studi Ekonomi Syariah angkatan 2018. Selain itu, dia juga sebagai santri di Pondok Pesantren Ali Maksum Yogyakarta. Tema yang diwakannya yaitu tentang hubungan manusia dan agama. Dalam kehidupan di dunia ini banyak sekali hubungan yang terjadi entah dalam beragama atau sosial kemasyarakatan. Pertama khablu minnallah, manusia berdoa dan meminta kepada Allah, saat melakukan kesalahan manusia juga harus bertaubat kepada-Nya. Kedua khablu minannaas, dalam menjalankan kehidupan sehari-hari manusia hidup berdampingan dan saling membutuhkan bantuan. Ketiga khablu minal ‘alaam, di bumi tanaman dan hewan juga merupakan makhluk hidup yang memberikan manfaat bagi manusia bahkan bumi itu sendiri. Oleh karena itu tanaman dan hewan yang ada harus di jaga, dilestarikan dan tidak lupa untuk menjaga kebersihan.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari manusia menjalin suatu hubungan dengan yang lainnya (Ukhuwwah). Seperti sebelumnya terjadi ukhuwwah kholqiyah (dengan Allah), ukhuwwah basyariah (dengan manusia), ukhuwwah islamiyah (sesama muslim), ukhuwwah wataniyah (dengan negara). Point yang terakhir mengajarkan untuk taat kepada uulil ‘amr yang baik dan benar sesuai ajaran dan perintah Allah.

Tema selanjutnya yaitu semangat dalam menuntut ilmu oleh fazlurrahman Arqoun mahasiswa Ekonomi Syariah angkatan 2020 yang tentunya baru saja mengikuti perkuliahan pada tahun ini namun ia sudah mantap dalam membagikan ilmunya. Dia bercerita tentang 1 pemuda dan 1 pria dalam sebuah desa. Pemuda tersebut sangat bersemangat dalam menuntut ilmu, ia selalu merasa bodoh dan terus belajar banyak hal meskipun itu sangat susah untuk dilakukan namun ia tidak patah semangat. Berbeda dengan 1 pria ini, ia tidak lagi ingin menangguh susahnya belajar dan suka bermalas-malasan. Namun pria itu mempunyai jabatan di desa tersebut yaitu sebagai wakil ketua RT. Suatu hari dalam desa tersebut ada perkumpulan bersama warganya. Pemuda itulah yang selalu memberikan pendapat dan solusi terhadap permasalahan yagn ada di desanya sedangakan pria itu sebagai wakil RT tidak memberikan solusi apapun. Hikmah dan pembelajaran yang dapat diambil yaitu العَالِمُ كَبِيْرٌ وَإِنْ كَانَ حَدَثًا. وَالْجَاهِلُ صَغِيْرٌ وَإِنْ كَانَ شَيْخًا artinya orang yang berilmu itu besar meskipun masih muda dan orang yang bodoh itu kecil walaupun sudah berumur. Oleh karena itu, ilmulah yang menjadikan manusia lebih mulia.

Kutipan-kutipan lain yang diambil oleh Fazlur yaitu diambil dari Mahfudhat (kumpulan kata-kata mutiara). Contoh lainnya tentang semangat mencari ilmu yang dikutip dari perkataan ibunya Imam Syafi’I yang artinya adalah barang siapa yang tidak dapat sedikit menahan sakitnya belajar maka ia akan merasakan pahitnya kobodohan sepanjang hidupnya. Apa yang terjadi nantinya apabila bermalas-malasan saat di usia muda. Adapun tujuan belajar itu untuk menghilangkan kebodohan, ilmu yang didapat di amalkan atau dibagikan supaya bermanfaat. Saat manusia meninggal hanya ada 3 perkara yang tidak akan terputus kecuali sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya.

Hikmah yang dapat diambil dari kegiatan kultum dan khatmil qur’an yaitu untuk menambah amal ibadah, menyambung tali silaturrahmi bahkan menambah wawasan serta pengingat kita sebagai muslim tentang ajaran-ajaran yang diberikan oleh Allah melalui utusannya Nabi Muhammad SAW dan para ulama terdahulu.

Penulis : Hanifa Salsabila