WEBINAR SESI I: EKONOMI SYARIAH SOLUSI UNTUK RESESI EKONOMI

Pandemi covid-19 menuntut setiap orang termasuk para mahasasiwa dan aktivis kampus untuk beradaptasi dengan keadaan. Hal itulah yang dilakukan oleh panitia Sharia Economic Fair (SEF) 2020, covid-19 tidak menyurutkan semangat para panitia untuk tetap memeriahkan hari istimewa bagi Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijaga ini secara daring. Pada hari sabtu, 7 November 2020 acara yang diselenggarakan adalah Seminar Nasional sesi I dengan tema yang sangat melirik isu terkini yaitu “Ekonomi Syariah: Solusi untuk Resesi Ekonomi Indonesia”.
Acara ini dimulai pukul 08.30 WIB yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al-qur’an oleh salah satu mahasiswa Ekonomi Syariah Angkatan 2020 yang bernama Fazlurrahman Arqoun. Lagu Indonesia Raya tidak lupa diputarkan untuk menumbuhkembangkan kembali rasa naionalisme yang kemudian diiringi dengan pemutaran Hymne UIN Sunan Kalijaga dan sambutan dari Kaprodi Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijaga dan Wakil Dekan 3 FEBI UIN Sunan Kalijaga. Harapan mereka acara seminar ini berjalan dengan lancar. Dr. Ahmad Salehudin (WD 3 FEBI UIN SUKA) dalam sambutannya mengungkapkan pendapatnya bahwa tema seminar ini cukup provokatif. Beliau juga menyampaikan bahwa hal ini jadi mengingatkan beliau tentang “Khalifah sebagai Solusi” dan beliau berharap hal ini tidak sama dengan hal itu.
Menurut Pemateri pertama, Dr. Rifky Ismail, Deputary Secretary General IFSB covid-19 ini mengakibatkan resesi global yang merupakan resesi yang pertama kali disebabkan oleh faktor kesehatan. Dan resesi di negara kita ini (Indonesia) tidak separah resesi negara lain. Kebijakan ekonomi syariah yang dilakukan oleh negara lain yang menggunakan sistem ekonomi syariah antara lain menjamin ketersediaan likuiditas, mengutamakan pembiayaan usaha kecil serta Makroprudensial dan Mikroprudensial diturunkan.
Berbeda halnya dengan Indonesia yang tidak menggunakan sistem ekonomi syariah secara full tapi campuran, namun tetap menggunakan nilai-nilai islam dalam kebijakannya. Peran/Kebijakan ekonomi islam yang dilakukan Indonesia salah satunya adalah pemberdayaan ekonomi Syariah melalui ekosistem halal value chain. Salah satu programnya adalah kemandirian ekonomi pesantren dan program linkage Usaha Syariah & UMKM Syariah.
Pemateri kedua adalah Dr. Widodo Ramadyanto dari BKF Kemenkeu RI. Menurut beliau hal yang membuat orang-orang tertarik dengan Ekonomi Syariah ini termasuk yang non-islam karena sistemnya yang lebih menjanjikan. Contohnya dalam hal investasi di saham, hal yang membuat investor non-islam ataupun islam tertarik adalah karena mereka tahu perusahaan yang sahamnya tergolong saham syariah itu tidak memiliki banyak hutang dibandingkan perusahaan yang sahamnya konven. Kemenkeu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia ditahun ini masih akan negatif. Pemateri juga memaparkan bahwa laju pertumbuhan lapangan usaha secara umum mulai dari quartal 3 tahun ini terus mengalami kenaikan.
Pandemi ini membuat pertumbuhan ekonomi terhambat sehingga diperlukan reformasi struktural baik dibidang pendidikan, kesehatan, perpajakan dan lainnya. Hal yang dilakukan pemerintah untuk menghadapi dampak ini adalah menambah jumlah hutang negara dan menarik investasi. Kebijakan pemerintah pada tahun ini ada dua yaitu kebijakan extraordinary dan mendukung reopening sedangkan pada tahun 2021 recovery and reformasi.
Pemateri juga memaparkan arah kebijakan pemerintah pada tahun 2021 dengan asumsi-asumsinya. Pendapatan negara sebagian besar akan berasal dari perpajakan. APBN di bidang pendidikan dianggarkan sebesar 550,5 T, kesehatan 169,7 T, perlindungan social 421,7 T, infrastruktur 413,8 T, kesehatan pangan 104,2 T, pariwisata 15,7 T dan bidang ICT 29,6 T. Bahkan kemenkeu telah mempersiapkan 3 skenario arah kebijakan pemerintah untuk me-recovery perekonomian dimasa akan datang. Hal ini menunjukkan keseriusan kementrian keuangan Indonesia menghadapi dampak pandemi ini. Menurut beliau, ekonomi Syariah mempunyai peluang dengan menggerakkan industry ekonomi syariah dan mendukung upaya counter cyclical pemerintah.
Acara Seminar Nasional sesi I berjalan dengan lancar. Acara ini ditutup dengan sesi tanya jawab antara pemateri dan peserta seminar yang sebagian besar berasal dari mahasasiswa. Banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta. Hal ini menunjukkan tingginya antusiasme peserta. Tentu saja pertanyaan tersebut ditanggapi dengan sangat baik oleh pemateri. Hal sederhana tapi dapat kita lakukan adalah meningkatkan tingkat konsumsi dalam negeri terutama di UMKM. Dan sebagai mahasiswa tentu saja kita harus tetap belajar dan berusaha membantu menemukan ide/solusi untuk menghadapi covid ini juga membantu memberikan penerangan/penjelasan kepada masyarakat sekitarnya agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat yang akan memicu perpecahan dan kerusuhan.
Penulis: Zarrah Ilhami