Prospek Masa Depan Dan Isu Spin-Off: CEO Talk Series Edisi Pertama Bersama Herwin Bustawan

Yogyakarta (8/12) - Dalam mempersiapkan diri menghadapi tuntutan dunia kerja yang semakin kompleks. Mahasiswa dituntut untuk tidak hanya memahami teori yang diajarkan di dalam dunia perkuliahan, tetapi juga membutuhkan wawasan nyata dan praktis dalam lapangan yang hanya dapat diberikan oleh para pemimpin bisnis sejati.

Chief Executive Officer (CEO), sebagai pemangku kebijakan tertinggi dalam sebuah perusahaan, memiliki pengalaman langsung dalam membuat keputusan strategis, mengelola sumber daya, dan menghadapi tantangan bisnis yang beragam. Pengetahuan ini tidak hanya menggali lebih dalam ke dalam operasi bisnis sehari-hari, tetapi juga memberikan pemahaman tentang dinamika pasar dan perubahan industri yang dapat membentuk karir masa depan mahasiswa.

Untuk itu Program Studi (Prodi) Ekonomi Syariah berinisiatif membuat program CEO Talk Series yang telah berhasil dilaksanakan pada tanggal 7 Desember 2023. Edisi pertama CEO Talk Series ini mengundang Herwin Bustawan selaku Direktur Unit Usaha Syariah PT Bank Permata dengan mengangkat tema "Islamic Banks in Indonesia: Future Prospects and Spin-off Issue".

Acara dimulai dengan sambutan dari Kepala Program Studi Ekonomi Syariah, yang juga menjadi inisiator program CEO Talk Series ini. Dalam sambutannya, Dr. Abdul Qoyyum, SEI.,M.Sc.,Fin. menjelaskan tentang kondisi terkini industri perbankan syariah di Indonesia, membahas berbagai isu yang sedang berkembang. Beliau menekankan pentingnya bagi mahasiswa untuk mengetahui perkembangan dan isu-isu tersebut dalam industri. Dari hal tersebut tentunya menjelaskan bahwa pengetahuan praktisi di lapangan sangat penting dan itu akan dapat diperoleh dari pemateri pada program ini.

Dalam pemaparan materi oleh Herwin Bustawan memberi penjelasan bahwa spin-off dari Unit Usaha Syariah (UUS) beralih menjadi Bank Umum Syariah (BUS) di industri perbankan di indonesia sebenarnya tidak bisa diterapkan secara keseluruhan.

" UUS Turut Berperan Aktif Dalam Membesarkan Perbankan Syariah, akan lebih banyak mudharatnya dibandingkan manfaatnya Jika UUS tetap dipaksakan untuk di spin-off".

Sebelumnya adanya Bank Syariah Indonesia sebagai representatif BUS persaingan perbankan di Indonesia sudah dianggap persaingan monopolistik. Apalagi setelah menjadi BSI Dan UUS Di spin-off menjadi bank kecil. Menurut studi yang pernah dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan Kinerja UUS justru memburuk setelah spin-off. Studi ini berkesimpulan bahwa setelah 4 tahun spin-off pun performa yang didapat tidak lebih baik dibandingkan sebelum spin-off. Hal ini disebabkan oleh persaingan dalam perbankan syariah lebih ketat, karena ukuran pasar yang masih kecil, basis konsumen yang masih sedikit, dan produk yang relatif terbatas.

Sebagai penutup beliau menjelaskan di dalam konteks internasional model UUS masih diterapkan di negara lain. Negara-negara yg memiliki perbankan syariah masih memperbolehkan model bisnis UUS. Di negara-negara tersebut juga, tidak ada kewajiban bagi UUS untuk di spin-off. Pada Arab Saudi market share perbankan syariah adalah sebesar 80% dan konvensional 20%. Dari hal tersebut, 60% merupakan berbentuk UUS. Di negara lain praktek UUS juga masih diakui dan masih tetap dijalankan.

Author: Muhammad Al Berto